PENDAHULUAN

1.      Uraian Umum
Terkenalnya Pulau Bali di mata dunia adalah karena kebudayaan. Kebudayaan itu lestari bahkan berkembang dengan pesatnya adalah karena ditunjang oleh Adat. Lestarinya adat karena berpedoman dan bersumber pada ajaran Agama Hindu. Agama Hindu dengan adatnya ibarat sebutir telur dengan kulitnya. Berapapun sempurnanya telur itu tanpa dilapisi dengan kulit yang sempurna, pasti telur itu tidak mungkin dapat menetas. Kalau keduanya itu telah sempurna namun masih juga memerlukan waktu pengeraman.
Moksa adalah tuuan Agama Hindu yang artinya adalah suka tanpa balik duka atau mukti. Oleh karenanya maka umat Hindu pada umumnya akan mengarahkan jalan pikiran kepada moksa atau disebut pula dengan istilah mulih sangkan paran, yaitu  kembali kepada asalnya. Dengan pengertian itu maka jelaslah bahwa manusia mempunyai sumber tertentu yaitu Bhuana Agung atau Macrokosmos, sedangkan manusia disebut dengan istilah Bhuwana Alit, karen aunsur manusia itu sama dengan unsur Bhuana Agung. Dengan alasan itulah maka Buwana Agung itu diperlakukan seperti manusia oleh Umat Hindu. Di dalam Bhuwana Alit yaitu tubuh manusia akan terdapat Tri Hita Karana yaitu tiga unsur yang menyebabkan umat manusia bahagia seperti :
1)      Atman : yang menyebabkan manusia itu hidup
2)      Tri Pramana :
a.       Bayu Pramana yang menyebabkan manusia dapat bergerak.
b.      Sabda Pramana yang menyebabkan manusia dapat berbicara.
c.       Idep Pramana yang menyebabkan manusia bisa berpikir.
3)      Stula Sarira : yaitu tubuh manusia yang terdiri dari unsur Panca Maha Buta, yang merupakan wadah dari Atman dan Tri Pramana tersebut.
Pada Bhuwana agung kitapun mengenal Tri Hita Karana seperti apa yang kita lihat pada Desa –desa Adat di Bali.
Di Desa Adat Sebatuhal ini masih dapat kita saksikan denganjelas bahwa Tri Hita Karana itu masih utuh dihayati dan ditaati oleh masyarakat desanya seperti :
1)      Adanya Pura / Kahyangan – Kahyangan yang terpelihara baik disucikan dan dihormati, dimana Krama Desa Adatnya dengan sujud bakti menghaturkan widhiwedana dan sembah pada saat upacara Pujawali / Piodalan, karena tempat itu dianggap sumber kebahagiaan lahir dan bathin, yang merupakan Atman dari Desa Adatnya yang menyebabkan Desa Adat itu hidup.
2)      Adanya Pawongan atau anggota masyarakat Desa Adat, yang merupakan Tri Pramananya Desa Adat, yang menyebabkan Desa itu dapat berpikir, berbicara dan bergerak untuk melaksanakan segala pembangunan yang telah direncanakan.
3)      Adanya Palemahan merupakan tempat dari masyarakat Desa Adat itu sendiri untuk melakukan segala kegiatan.

Dalam Bhuwana Alit atau tubuh manusia dikenal istilah Tri Angga yaitu :
1)      Utama Angga : dari leher ke atas sampai pada ubun – ubun, adalah bagian yang paling disucikan.
2)      Madia Angga : dari leher ke bawah sampai pada pinggang, adalah bagian yang kesuciannya lebih rendah dari Utama Angga.
3)      Nista Angga : dari pinggang ke bawah sampai pada telapak kaki, tingkat kesuciannya paling rendah nilainya.
Adapun Tri Angga yang terdapat pada Bhuwana Agung disebut dengan Tri Mandala yaitu :
1)      Utama Mandala : Pura / Kahyangan dan tempat suci lainnya.
2)      Madia Mandala : Palemahan tempat masyarakat Desa Adat itu bermukim.
3)      Nista Mandala : Kuburan atau Setra.
Skup yang lebih kecil lagi akan terdapat pada karang peruahan Umat Hindu yang pada umumnya juga berpedoman dengan Tri Mandala tersebut di atas seperti :
1)      Utama Mandala, adalah Merajan / Sanggah.
2)      Madia Mandala, adalah tempat tiggal (mendirikan rumah)
3)      Nista Mandala adalah eba (bagian belakang pekarangan)
Seandainya Bhuwana Agung yang kami sebutkan di atas, terdapat kerusakan, apakah kerusakan itu dibuat dengan sengaja atau pun tidak, dianggap bahwa Bhuwana Agung itu telah menderita sakit yang perlu mendapat pengobatan, seperti : pengurip, pengenteg, pengulapan dan lain – lainnya. Begitu pula seandainya Bhuwana Agung itu dianggap cemer, maka perlu mendapatkan pemrayascita.
Demikianlah umat Hindu di Bali memperlakukan Bhuwana Agung itu, sangat mirip sekali dengan memperlakukan manusia, karena sangat tebal kepercayaannya, menganggap Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit itu intinya adalah sama dan pada saatnya manusia atau Bhuwana Alit itu akan kembali ke Bhuwana Agung, sesuai dengan ajaran Agama Hindu, yakni mulih sangkan paran atau moksa.
Berpedoman dengan hal – hal di atas, maka Krama Desa Adat Sebatu telah bertekad untuk mempertahankan kelestarian adatnya, oleh karena telah terbukti berkat dapat mempertahankan kelestarian Desa Adat, maka kebudayaan dapat tumbuh dengan subur. Hal ini dapat kita saksikan bahwa di Desa Adat Sebatu telah terdapat kelompok – kelompok / Sekaha seperti Sekeha Taruna – Taruni yang pada akhir – akhir ini telah berprestasi yang meyakinkan, sehingga mendapatkan predikat juara pertama untuk Tingkat Propinsi Bali. Di samping itu masih banyak sekeha kesenian seperti Sekeha Kidung / Kekawin, Sekaha Angklung, Sekaha Drama Gong, dan yang paling menonjol adalah Sekaha Gong dengan penarinya, yang telah beruntung sehingga telah sering kali melawat ke luar negeri dan telah mengunjungi lebih dari 15 negara di Eropa dan Amerika. Di samping seni sastra, seni tari dan seni tabuh, masyarakat Desa Adat Sebatu sangat menekuni seni ukir, seni bangunan tradisional Bali. Hal ini merupakan kebanggaan masyarakat Desa Adat kami, karena melalui hasil seni tersebut kebutuhan masyarakat Desa Adat yang jumlahnya telah mencapai 1500 jiwa lebih dapat terjangkau kebutuhan hidupnya, yang sudah barang tentu ditunjang dari hasil sawah dan tegal yang luasnya relatif kecil.
Bangunan – bangunan perupamahan lebih – lebih Parhyangan (tempat suci) diusahakan agar selalu berpedoman dengan Asta Bumi, Asta Kosala – Kosali, Dharma Laksana dan lain sebagainya, sekurang – kurangnya pada bangunan yang dianggap penting.
Sesungguhnya sejarah Desa Adat Sebatu sangat besar manfaatnya bagi masyarakat Desa Adat Sebatu, karena melalui pengetahuan sejarah desanya, masyarakat Desa Adat Sebatu akan lebih berhati – hati untuk melakukan segala sesuatunya, karena kecerobohan yang pernah dilakukan oleh Sang Mayadenawa sehingga beliau terpeleset dan akhirnya menemui ajalnya. Untuk lebih jelasnya kami persilahkan untuk membaca sejarah Desa Adat Sebatu.

2.      Sejarah Singkat Desa Sebatu
Sebatu adalah Desa Adat yang berasal dari urat kata : sauh = tergelincir dan batu = batu, jadi sauh batu adalah tergelincir pada batu. Dari kata Sauhbatu lambat laut cara mengucapkan menjadi Sebatu. Hal ini sesuai benar dengan apa yang terdapat dalam cerita Mayadenawa pada Usana Bali, yang cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :
Mayadanawa adalah seorang raja besar yang menguasai beberapa daerah seperti : Sasak, Sumbawa, Makasar, Bugis, Madura, Blambangan dan tentu saja Bali. Beliau bertahta di Bedahulu dan mempunyai Patih yang sangat sakti dan setia yaitu Kalawong. Karena mabuk akan kekuasaannya maka watak menjadi sombong angkuh dan nyapa kadi aku (egois), menganggap dirinya paling super bahkan lebih dari itu, yaitu menganggap dirinya sebagai Dewa. Tidak jarang beliau menghalalkan perbuatan yang tidak halal dan pada suatu ketika tatkala beliau sedang dihadap oleh Patihnya Kalawong maka beliau bersabda menginginkan untuk mencegat masyarakat Bali yang bermaksud akan menghaturkan sembah widiwedana kepada para Dewa di Pura Besakih. Sabda ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Ki Patih Kalawong, oleh karenanya berangkatlah beliau bersama dengan Patihnya ke Besakih, dan tiba di Pura Manik Mas. Setelah itu dilihatnya masyarakat Bali datang berduyun – duyun membawa widiwidana.
Dengan sifat dan sikap yang angkuh Mayadenawa memanggil masyarakat serta menanyakan apa maksud dan tujuannya mereka datang dengan membawa widiwidana ke Besakih. Yang ditanya dengan lugu menjawabnya, dimana mereka mengatakan bahwa kedatangannya itu adalah bertujuan untuk menggaturkan sembah bakti dan widiwidana kehadapan pada Dewata di Pura besakih, agar berkenan melimpahkan urip waras gemuh landuh dan dirghayusa. Sambil tertawa terbahak – bahak Mayadenawa menjawab dengan congkaknya, dimana dikatakan bahwa tiada Dewa terkecuali dirinya sendiri dan dijelaskannya pula bahwa pengertian rakyat Bali itu salah, sedangkan yang benar adalah dirinya sendiri Dewa sejati yang wajar disembah dengan menghaturkan widiwidana. Kata – kata itu diucapkan sambil melontarkan ancaman, seandainya berani menentang tentu akan dibunuh. Melihat kejadian itu masyarakat sangat sedih, namun tak seorangpun ada yang berani menolak dan mereka tunduk semuanya. Sejak peristiwa itu masyarakat tidak ada yang berani datang ke Besakih untuk menghaturkan widiwidana, sehingga Pulau Bali menjadi kering, dimana – mana penyakit merajalela, tanaman tidak dapat tumbuh, pendek kata masyarakat Bali ditimpa kesengsaraan lahir dan bathin. Hal ini segera dapat diketahui oleh Bhatara Putrajaya atau Bhatara Mahadewa, maka beliau segera memanggil para Dewa lainnya diajak berunding, untuk mengatasi problema yang menimpa Pulau Bali. Dalam pertemuan itu telah disimpulkan bahwa ulah Sang Mayadenawa itu perlu dilaporkan kepada Bhatara Pasupati di Gunung Mahameru dengan maksud agar Mayadenawa segera dilenyapkan dari bumi ini. Selanjutnya diceritakan Bhatara Mahadewa telah tiba di hadapan Bhatara Pasupati dan setelah menghaturkan sembah lalu diceritakan maksud kedatangan, yaitu untuk membunuh Mayadenawa, karena akibat dari ulahnya menyebabkan masyarakat Bali ditimpa malapetaka. Bhatara Pasupati tidak keberatan sehingga beliau meminta bantuan kepada Bhatara Indra. Demikian pula Bhatara Indra tidak berkeberatan untuk membantu Bhatara Mahadewa dalam memerangi Sang Mayadenawa, maka segeralah pasukan Bhatara Indra disiap-siagakan ke Besakih.
Melalui mata – mata yang tersebar luas dimana – mana Sang Mayadenawa segera mengetahui maksud Bhatara Mahadewa, dimana diketahui pula bahwa Bhatara Indra telah siap – siap tempur dan berkumpul di Besakih. Sang Mayadenawapun tidak tinggal diam dan dengan segera disiapkan pasukannya untuk menangkis serangan pasukan Bhatara Indra, ketika kedua belahpasukan saling berhadapan, maka terjadilah peperangan yang sangat dahsyat, namun ternyata pasukan Bhatara Indra jauh lebih unggul sehingga pasukan Mayadenawa menjadi porak – poranda seperti belukar dilanda air bah, mengakibatkan Mayadenawa lari terbirit – birit ketakutan dikejar pasukan Bhatara Indra. Karena kesaktiannya dalam ilmu “Maya” (berubah rupa) maka Sang Mayadenawa dalam pelariannya seringkali merubah dirinya menjadi pohon, binatang dan lain sebagainya, namun itupun diketahui pula dan terus dikepung oleh pasukan Bhatara Indra. Ketika Sang Mayadenawa lari bersembunyi pada pohon timbul maka tempat tersebut sekarang dinamakan Desa Timbul. Ketika bersembunyi pada janur (busung), desa itu sekarang dinamakan Belusung. Di dalam persembunyiannya Sang Mayadenawa dengan tipu dayanya menciptakan air beracun (tirta cetik) yang akhirnya diminum oleh semua pasukan Bhatara Indra sehingga semuanya menemui ajalnya. Melihat pasukannya semua meninggal maka Bhatara Indra segera membawa senjata berupa umbul – umbul dan ditancapkan di dekat air beracun itu, sehingga muncul mata air yang besar mengepul dari tanah. Air itu kemudian dipergunakan untuk memerciki semua mayat pasukan Bhatara Indra maka ajaib semuanya hidup kembali. Mata air itu sekarang disebut Tirta Empul. Pengejaran oleh pasukan Bhatara Indra dilanjutkan kembali dan Sang Mayadenawa lari kearah barat menjadi seekor ayam jago, sekarang disebut Desa Manukaya. Selanjutnya Sang Mayadenawa lari sambil bersembunyi kembali pada beberapa tempat dan ketika lari di atas sebuah batu maka tergelincirlah (sauh) kakinya pada bati itu sehingga tempat itu disebut SAUHBATU yang berarti tergelincir pada batu dan kini disebut Desa SEBATU. Untuk seterusnya Sang Mayadenawa lari dan tibalah di Pangkung Patas bersama Patihnya Kalawong disana keduanya merubah dirinya menjadi batu padas, batu tersebut kemudian dipanah oleh pasukan Bhatara Indra maka keluar darah dan mengalir pada sungai petanu, akhirnya matilah Sang Mayadenawa denganpatihnya.
Demikianlah sejarah singkat asal mulanya nama Desa Adat SEBATU.

No comments :

Post a Comment