Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Untuk dapat hidup bermasyarakat dengan rukun tentram dan damai, maka masyarakat yang pada pokoknya terdiri dari kumpulan individu – individu, mutlak memerlukan aturan – aturan atau norma untuk ditaati bersama – sama. Aturan – aturan itu telah menjadi adat kebiasaan dalam tingkah laku bergaul sesama individu, di masyarakat dan lingkungan serta dalam bergaul dengan Tuhan dalam wujud keagamaan. Aturan – aturan itu sesuai dengan Tri Hita Karana yang merupakan wujud tiga unsur suatu Desa Adat.
Dalam hal ini Desa Adat Sebatu juga mempunyai norma – norma atau aturan – aturan yang menyangkut ketiga unsur tersebut, serta tersusun dalam bentuk Awig – Awig Desa Adat Sebatu. Awig – Awig tersebut ada yang dibuat tertulis yang merupakan pedoman dasar atau Undang – Undang Dasar bagi Desa Adat Sebatu dan yang tidak tertulis terdiri dari kebiasaan – kebiasaan dalam tata krama bergaul dan kegiatan lain yang berhubungan dengan adat dan agama.
Di samping awig – awig tertulis yang merupakan Undang – Undang Dasar Bagi Desa Adat Sebatu, juga mempunyai aturan – aturan tertentu sebagai peraturan penunjang awig yang merupakan hasil keputusan pesamuan, yang dibuat dan ditetapkan serta dirubah apabila dipandang tidak cocok / sesuai dengan perkembangan jaman.
Penetapan dan perubahan tersebut dilakukan di hadapat krama Desa Adat Sebatu pada saat berlangsungnya upacara Pujawali di Pura Dalem setiap tahun sekali.
Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan awig – awig ataupun “Tunggul – Tunggul” lainnya telah ditulis dalam lontar setelah terlebih dahulu disiarkan serta dipelaspas (diupacarai) bahkan adakalanya banyak yang merupakan putusan warisan.
No comments :
Post a Comment