2. Sejarah Singkat Desa Adat Sebatu

Sebatu adalah Desa Adat yang berasal dari urat kata : sauh = tergelincir dan batu = batu, jadi sauh batu adalah tergelincir pada batu. Dari kata Sauhbatu lambat laut cara mengucapkan menjadi Sebatu. Hal ini sesuai benar dengan apa yang terdapat dalam cerita Mayadenawa pada Usana Bali, yang cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :
Mayadanawa adalah seorang raja besar yang menguasai beberapa daerah seperti : Sasak, Sumbawa, Makasar, Bugis, Madura, Blambangan dan tentu saja Bali. Beliau bertahta di Bedahulu dan mempunyai Patih yang sangat sakti dan setia yaitu Kalawong. Karena mabuk akan kekuasaannya maka watak menjadi sombong angkuh dan nyapa kadi aku (egois), menganggap dirinya paling super bahkan lebih dari itu, yaitu menganggap dirinya sebagai Dewa. Tidak jarang beliau menghalalkan perbuatan yang tidak halal dan pada suatu ketika tatkala beliau sedang dihadap oleh Patihnya Kalawong maka beliau bersabda menginginkan untuk mencegat masyarakat Bali yang bermaksud akan menghaturkan sembah widiwedana kepada para Dewa di Pura Besakih. Sabda ini mendapat dukungan sepenuhnya dari Ki Patih Kalawong, oleh karenanya berangkatlah beliau bersama dengan Patihnya ke Besakih, dan tiba di Pura Manik Mas. Setelah itu dilihatnya masyarakat Bali datang berduyun – duyun membawa widiwidana.
Dengan sifat dan sikap yang angkuh Mayadenawa memanggil masyarakat serta menanyakan apa maksud dan tujuannya mereka datang dengan membawa widiwidana ke Besakih. Yang ditanya dengan lugu menjawabnya, dimana mereka mengatakan bahwa kedatangannya itu adalah bertujuan untuk menggaturkan sembah bakti dan widiwidana kehadapan pada Dewata di Pura besakih, agar berkenan melimpahkan urip waras gemuh landuh dan dirghayusa. Sambil tertawa terbahak – bahak Mayadenawa menjawab dengan congkaknya, dimana dikatakan bahwa tiada Dewa terkecuali dirinya sendiri dan dijelaskannya pula bahwa pengertian rakyat Bali itu salah, sedangkan yang benar adalah dirinya sendiri Dewa sejati yang wajar disembah dengan menghaturkan widiwidana. Kata – kata itu diucapkan sambil melontarkan ancaman, seandainya berani menentang tentu akan dibunuh. Melihat kejadian itu masyarakat sangat sedih, namun tak seorangpun ada yang berani menolak dan mereka tunduk semuanya. Sejak peristiwa itu masyarakat tidak ada yang berani datang ke Besakih untuk menghaturkan widiwidana, sehingga Pulau Bali menjadi kering, dimana – mana penyakit merajalela, tanaman tidak dapat tumbuh, pendek kata masyarakat Bali ditimpa kesengsaraan lahir dan bathin. Hal ini segera dapat diketahui oleh Bhatara Putrajaya atau Bhatara Mahadewa, maka beliau segera memanggil para Dewa lainnya diajak berunding, untuk mengatasi problema yang menimpa Pulau Bali. Dalam pertemuan itu telah disimpulkan bahwa ulah Sang Mayadenawa itu perlu dilaporkan kepada Bhatara Pasupati di Gunung Mahameru dengan maksud agar Mayadenawa segera dilenyapkan dari bumi ini. Selanjutnya diceritakan Bhatara Mahadewa telah tiba di hadapan Bhatara Pasupati dan setelah menghaturkan sembah lalu diceritakan maksud kedatangan, yaitu untuk membunuh Mayadenawa, karena akibat dari ulahnya menyebabkan masyarakat Bali ditimpa malapetaka. Bhatara Pasupati tidak keberatan sehingga beliau meminta bantuan kepada Bhatara Indra. Demikian pula Bhatara Indra tidak berkeberatan untuk membantu Bhatara Mahadewa dalam memerangi Sang Mayadenawa, maka segeralah pasukan Bhatara Indra disiap-siagakan ke Besakih.
Melalui mata – mata yang tersebar luas dimana – mana Sang Mayadenawa segera mengetahui maksud Bhatara Mahadewa, dimana diketahui pula bahwa Bhatara Indra telah siap – siap tempur dan berkumpul di Besakih. Sang Mayadenawapun tidak tinggal diam dan dengan segera disiapkan pasukannya untuk menangkis serangan pasukan Bhatara Indra, ketika kedua belahpasukan saling berhadapan, maka terjadilah peperangan yang sangat dahsyat, namun ternyata pasukan Bhatara Indra jauh lebih unggul sehingga pasukan Mayadenawa menjadi porak – poranda seperti belukar dilanda air bah, mengakibatkan Mayadenawa lari terbirit – birit ketakutan dikejar pasukan Bhatara Indra. Karena kesaktiannya dalam ilmu “Maya” (berubah rupa) maka Sang Mayadenawa dalam pelariannya seringkali merubah dirinya menjadi pohon, binatang dan lain sebagainya, namun itupun diketahui pula dan terus dikepung oleh pasukan Bhatara Indra. Ketika Sang Mayadenawa lari bersembunyi pada pohon timbul maka tempat tersebut sekarang dinamakan Desa Timbul. Ketika bersembunyi pada janur (busung), desa itu sekarang dinamakan Belusung. Di dalam persembunyiannya Sang Mayadenawa dengan tipu dayanya menciptakan air beracun (tirta cetik) yang akhirnya diminum oleh semua pasukan Bhatara Indra sehingga semuanya menemui ajalnya. Melihat pasukannya semua meninggal maka Bhatara Indra segera membawa senjata berupa umbul – umbul dan ditancapkan di dekat air beracun itu, sehingga muncul mata air yang besar mengepul dari tanah. Air itu kemudian dipergunakan untuk memerciki semua mayat pasukan Bhatara Indra maka ajaib semuanya hidup kembali. Mata air itu sekarang disebut Tirta Empul. Pengejaran oleh pasukan Bhatara Indra dilanjutkan kembali dan Sang Mayadenawa lari kearah barat menjadi seekor ayam jago, sekarang disebut Desa Manukaya. Selanjutnya Sang Mayadenawa lari sambil bersembunyi kembali pada beberapa tempat dan ketika lari di atas sebuah batu maka tergelincirlah (sauh) kakinya pada bati itu sehingga tempat itu disebut SAUHBATU yang berarti tergelincir pada batu dan kini disebut Desa SEBATU. Untuk seterusnya Sang Mayadenawa lari dan tibalah di Pangkung Patas bersama Patihnya Kalawong disana keduanya merubah dirinya menjadi batu padas, batu tersebut kemudian dipanah oleh pasukan Bhatara Indra maka keluar darah dan mengalir pada sungai petanu, akhirnya matilah Sang Mayadenawa denganpatihnya.
Demikianlah sejarah singkat asal mulanya nama Desa Adat SEBATU.

No comments :

Post a Comment